Ini episode terakir dari hasil plesiran tempo doeloe yang temanya Arsitektur Kebangsaan. Ceritanya hari sabtu itu kita melintasi jalan utama Jakarta sekaligus foto - foto di bunderan HI dan patung Pemuda dan pastinya sambil dengerin ulasannya mas Yuda. Berhubung udah agak lama jalan - jalannya dan males liat catetan tapi terlanjur sakblog, jadi tulisannya bakal ngga berurutan neh.
Pas kita ngelewatin gedung Sarinah yang namanya diambil dari nama pengasuh Bung Karno, kita dapet cerita bahwa di tahun 1968 pada saat gedung itu diresmikan, banyak orang yang rebutan naik lift.
Di jalan Thamrin ini ada Tugu Selamat Datang yang menghadap ke utara, patung ini sengaja dibuat untuk menyambut para turis yang datang dari arah bandara Kemayoran dan pelabuhan Tanjung Priok. Kalau sekarang, patung hape Samsung SGH 500 (?) yang menyambut pendatang dari arah bandara Soekarno - Hatta hehehe.
Yak lanjut ke jalan Sudirman, jalanan ini tadinya adalah semacam jalan arteri yang menghubungkan pusat kota ke kota satelit Kebayoran. Yup, kota satelit Kebayoran! Dulu pada jaman Belanda (lagi - lagi kalo ngga salah lho) Kebayoran memang dirancang sebagai kota satelit untuk menampung 65.000 - 100.000 jiwa lengkap dengan sarana sekolahan dan makam. Ini yang hebat. Developer sekarang cuma bikin kota dengan rumah - rumah tanpa areal pemakaman. Kebayoran ini sengaja dipilih karena lokasinya yang paling ideal dari segi geografis, pantesan Kemang banjir mulu ya? Wong memang daerah rendah. Nah, gedung CSW yang kita kenal sekarang itu tadinya kantornya pengelola pengembangan Kota Satelit Kebayoran.
Di ruas Thamrin - Sudirman ini ada jembatan Semanggi yang jadi titik pertemuan antara ruas jalan ini dan ruas outer ring road Gatot Subroto - S. Parman. Pematung patung Dirgantara atau patung Pancoran di ruas Gatot Subroto - S. Parman itu sampai sekarang belum dibayar lho. Astaghfirullah, kasian bener bapak itu.
Sebetulnya banyak banget cerita seru dari mas Yuda yang out of topic pada saat jalan - jalan ini tapi daripada menimbulkan pro dan kontra mending ngga semua gue ceritain :)
Ada juga pertanyaan mas Yuda yang cukup menarik, kenapa nama Sukarno dan Hatta ngga pernah dipakai secara terpisah? Entah itu sebagai nama jalan atau nama gedung. Ada yang punya jawabannya?
Dan di era moderen inipun kita sudah punya tugu yang fenomenal secara jumlah dan juga secara cerita yang melatar belakangi pembuatannya, yaitu, monumen monorel.







3 comments:
celoteh ragil: "Ceritanya hari sabtu itu kita melintasi jalan utama Jakarta sekaligus foto - foto di bunderan HI...."====> kayak orang semarang yg melintas di bundaran tugu muda n poto2 disana ya...piknik di tengah kota!!hehehe...
iya ya, trus dilanjut jalan2 malem di lawang sewu. Seru!
Gil...makasih yaa gw jado inget crita crita bokapgw tentang djakarta doeloe. ampir sama deh ama yang elu tulis ini. malahan komplitan elu.
eh ngomong2 bunderan HI, coba dateng tiap jumat malem jam 10. anak2 blog nongkrong disana loh. gratis hehehe
Post a Comment