Wednesday, May 14, 2008

Pindah (lagi).

Iya, pindah lagi. Kebiasaan jaman masih kecil ternyata kebawa sampai sekarang. Cuma karena sekarang sudah gak bisa pindah - pindah kota, jadi ya pindah blog aja.

Semoga ini yang terakhir. Soalnya capek juga harus ganti profile di MP, FS dan FB. Halah, ya sapa juga yang suruh ganti? Wong ya gak ngepek.

Monggo kalau mau berkunjung ke rumah baru saya silahkan klik di sini. Atau yang ini http://astoundingstratus.wordpress.com dan yang ini http://astoundingstratus.wordpress.com aaah sama aja lah.

Burung Siapa?

Mungkin sudah banyak yang posting soal ini, saya sebetulnya sudah lama pengen posting. Sayangnya baru ketemu sama Dahlia yang bisa bantu saya kemarin.

Bukan, bukan membantu saya membesarkan burung. Karena dia bukan peternak. Tapi membantu saya dalam hal meng-copy paste image. Gini nih kalau apa - apa gak pernah dikerjain sendiri, selalu minta tolong orang lain. Padahal gampang banget ya caranya 0000ythn.gif.

Saya tuh sudah lama penasaran sama iklan di samping ini. Maksudnya burung apa yang bisa dibesarkan? Atau malah burung siapa? Secara alami pulak.

Bukankah burung itu memang besar secara alami? Gak perduli burung apapun. Atau, burung siapapun. Maksud saya, burung kan gak seperti ban mobil yang harus ditiup angin dari kompresor supaya bisa menggelembung atau membesar volumenya. Atau ada juga burung yang harus ditiup supaya bisa membesar? Ah itu pasti burung sial yang ketemu pekerja baru.

Diisep lah, bukan ditiup! kata si pemilik burung memberi tahu pegawai barunya tentang cara kerja mesin pembersih kotoran kandang.

Tuesday, May 13, 2008

Sutradara Gila.

Ini dia nih yang saya tunggu dari tadi pagi. Saya heran sama sutradara yang satu ini. Gayanya sejuta! Kalau karyanya udah sejuta mah ok lah. Lha wong portofolionya aja cuma gituan kok gayanya tengil. Anjrit banget!

Saya gak mau sok alim dan sok baik. Walaupun saya ini imut dan baik hati, tapi kalau ketemu orang macam dia rasanya saya pengen makan orang. Toh seumur hidup belum pernah nyoba menu sutradara saus tiram. Ini aja saya sudah jengkel gara - gara dia harusnya masuk editing jam 9 pagi. Lha kok ya baru nongol jam segini? Jam mahal mu itu buat apa? Pasti palsu tuh!

Sebetulnya kalau dia punya gaya macam sutradara hebat mah saya cuek, tapi yang bikin gak tahan itu kelakuan dia yang suka beda - bedain derajad orang. Udah banyak cameraman di kantor yang protes soal kelakuannya, apalagi kelakuan dia kalau lagi didepan client. Doh! Langsung overacting mau nunjukin bahwa dia yang berkuasa atas tim produksi. Sinting. Biasa aja kaleee!

Suatu kali dia datang ke kantor saya naik taxi burung perak. Hebat! Sayangnya kok terus dia minta kita bayarin taxinya? Halah, ndak jadi hebat lah. Kalau mau ngerasain naik mobil Jerman yang mahal itu mbok ya jangan gitu, malu - maluin aja.

Hari ini dia datang ke kantor saya dan langsung kena musibah, kecebur got di depan kantor! Sayang saya tadi telat lari ke depan, jadi gak bisa foto - foto. Makanya bung, kalau jalan jangan terlalu mendongak!

Sekarang saya baru terima laporan pengeluaran dia selama shooting di luar kota beberapa hari yang lalu. Ada struk belanja di giant, dia belanja shampoo, deodorant, pasta gigi, obat kumur, cotton bud, keju dan roti. Gila! Situ mau shooting apa belanja bulanan?

Moral of the story, bawa duit yang banyak kalau mau nyombong!

Memajang foto.

Ada kawan saya yang menggunakan cara memajang foto pasangannya yang sudah meninggal demi untuk segera melupakan perasaannya. Saya tahu, pasti berat untuk melupakan rasa sayang kepada orang yang sudah tiada. Makanya kawan saya itu sengaja memajang foto - foto itu dengan tujuan membuatnya kebal terhadap rasa kangen kepada pasangannya dan bukan untuk mengingat kenangan - kenangan masa lalu. Halah. Kalau kenangan ya pasti masa lalu. Kalau masa depan itu namanya Minority Report.

Nah gimana kalau cara itu dipakai untuk melupakan selingkuhan yang masih hidup? Kayaknya bakal sukses tuh. Lha kan pasangan resminya pasti mencak - mencak kalau tiba - tiba ada foto orang tak dikenal yang tiba - tiba nangkring.

Bagi yang masih terlibat perasaan dengan selingkuhan, berani coba cara itu?

Monday, May 12, 2008

Internet itu termasuk sembako!

Melanjutkan cerita kamar misteri. Hari ini sepupu saya ngedumel via YM. Ngomong - ngomong, kenapa hari ini banyak betul cewe ngedumel via YM ke saya ya? Sepupu saya ini cerita kejadian di apartemennya. Dia itu sharing apartment dengan teman - temannya yang sedang kuliah di Universitas Kebangsaan Malaysia.

Singkat cerita, sepupu saya baru pulang traveling dari Eropa dan langsung bentrok dengan penghuni kamar misteri itu. Kalau di apartemennya, kamar itu disebut "kulkas satu pintu" Karena selain penghuninya tidak mau sharing makanan, dia juga gak perduli sama situasi house mate-nya. Jadi kalau di luar kondisi lagi "panas" dia tetep adem-ayem di dalam. Betul - betul seperti di dalam kulkas!

Nah, keributan terjadi saat penghuni kulkas itu kembali dari kampung halaman dan kondisi apartemennya sedang kosong. Tiba - tiba si kulkaser itu berhasrat berinternetan. Masalahnya, koneksi internet cuma bisa dihidupkan dari kamar sepupu saya. Jadi masuklah dia ke kamar sepupu saya tanpa ijin. Padahal kamar itu terkunci! Memang kunci kamar sepupu saya ada di meja makan tapi intinya, kamar adalah privacy!

Maka masuklah kulkaser itu ke kamar sepupu saya dan menyalakan internet, setelah itu dia balik lagi ke kulkasnya dan surfing. Sedikit cerita, dulu awalnya kulkaser ini menolak patungan biaya pasang internet karena dia merasa enggak butuh. Makanya modem utama ada di kamar sepupu saya. Eh lha kok ya sekarang pecicilan sakarepe dewe. Sampai bela - belain trespassing ke kamar orang untuk nyalain internet. Mungkin buat dia sekarang, internet adalah salah satu dari sembilan bahan pokok!

Moral of the story, kalau kita hidup merantau di negeri orang, mbok ya ada tenggang rasa. Apalagi sesama house mate. Lha kok ini malah bikin rumah-di-dalam-rumah dan punya slogan home sweet home refrigerator!

Note:
Ide cerita diambil dari curhatan sepupu yang justru sering mengalami kendala non akademis dalam perjuangannya mengambil gelar Ph.D. di Universitas Kebangsaan Malaysia.

foto colongan: home sweet home refrigerator

Join Komunitas Baru.

Setelah ngubek - ngubek di tempat lama, akhirnya saya coba join ke komunitas baru. Beda banget kondisinya. Ya iyalah, lain ladang kan lain belalangnya.

Di komunitas baru ini, komunikasinya via milis. Seru dan rame banget. Sayangnya mereka ada di Semarang. Jadi ya harus sabar kalau saya mau kopdaran dan nyambangi teman - teman baru itu.

Sambil nunggu kesempatan bisa mampir ke Semarang, saya iseng ikutan ngeramein milisnya dululah. Dan, jreeeeng! Saya banyak nyalahin aturan 0000ythn.gif.

Sementara ini pelan - pelan belajar tata cara di tempat baru sambil pakai helm untuk jaga - jaga kalau dipenthung sama kamtib komunitas baru itu gara - gara saya nekat nggedabrus sebelum paham aturan mereka 0000ythn.gif.

Maaf ya temans, kadang - kadang semangat meramaikan komunitas suka ngalahin unggah - ungguh. Tapi saya selalu siap dipenthung kok smiles-boxing.gif 0000ythn.gif.

SMS Santet.

Saya tadinya enggak perduli dengan sms yang dikirimkan secara berantai itu. Saya memang kurang perduli dengan apapun yang sifatnya berantai. Kecuali mungkin cewek manis berantai kalung berlian. Ah, dasar bakat nyopet!

Sampai akhirnya tadi malam chatting dengan kawan saya yang jurnalis Semarang itu. Dia memberikan link tulisannya yang dia tulis online di Sindo. Ternyata di setiap daerah, isu sms santet ini ditanggapi bermacam - macam. Khusus untuk Jawa Tengah, mungkin karena menjelang pilkada, isu ini ditanggapi serius.

Saya, sebagai penggemar teori konspirasi, jadi mikir apakah ini salah satu cara provider telpon selular mencari keuntungan? Bisa saja, dengan suatu cara, mereka meminjam tangan orang lain sehingga terjadilah sms berantai itu.

Ya apapun itu, mungkin ini disebabkan juga oleh semakin murahnya tarif telpon sehingga membuat Saras 008 makin malas berpatroli memberantas sms - sms ngawur itu. Lha siapa yang mau kerja kalau cuma diberi honor 0,0000000000... rupiah per detik?

Sunday, May 11, 2008

Bengis.

Selama pulang ke Semarang beberapa minggu yang lalu itu, saya dapat istilah baru yaitu bengis. Menurut saya, istilah ini cocok banget buat kota Semarang.

Seperti kota lain di Indonesia, Semarang juga punya banyak tempat makan yang enak. Ada nasi goreng bakar di Tlogosari, ada gado - gado dan rujak degan di Pekunden dan ada juga nasi uduk di dekat Undip, kalau saya enggak salah. Belum lagi loenpia, mendoan dan tahu petisnya. Dooh, pokoke slurups banget lah.

Makanya istilah bengis itu cocok banget. Jadi kalau kita baru pulang setelah wisata kuliner, kita bisa bilang "Aduh kekenyangan nih, jadi bengis" Jauh lebih sopan dibanding kita bilang, kebelet ngising! Iya tho?

Note:
Saya kok dapet perasaan gak enak. Kayaknya bakal dapet komen yang bunyinya kira-kira: abis baca postingan lo, gue jadi bengis nih.

Hohoho bumilica belluci, buntel, dinisaurus dan ratu binaraga coba cari komen yang lebih kreatif!

Friday, May 9, 2008

Pulang.

Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu...
Buat saya yang dulu sering pindah - pindah kota, rasanya semua kota itu jadi seperti kampung halaman saya. Terutama empat kota di pulau Jawa. Bandung tempat saya lahir, Surabaya tempat saya dibesarkan, Semarang tempat saya semakin membesar dan Jakarta tempat saya menjadi gendut besar.

Keempat kota itu sudah menjadi rumah buat saya. Bukan cuma karena kota - kota itu punya sejarah khusus buat saya, tapi juga karena di situ masih banyak mantan pacar saya keluarga saya. Makanya kalau mau pergi ke sana, saya selalu bilang mau pulang ke Semarang atau mau pulang ke Surabaya. Begitu juga kalau saya akan balik ke Jakarta dari salah satu kota itu, saya pasti bilang mau pulang ke Jakarta.

Dulu saya suka ngeluh karena telalu sering berpindah kota. Sekarang justru saya bersyukur karena pernah tinggal di banyak kota. Karena kemana pun saya pergi, selalu ada teman atau saudara yang bisa saya hubungi. Ya itung - itung jadi kayak punya banyak rumah lah. Walau cuma rumah imajiner.

Pasti bakal lebih enak lagi kalau rumah - rumah imajiner itu bisa dilengkapi dengan istri imajiner juga. Kan, kata pak ustad, menikah itu adalah setengah perjalanan ibadah dalam hidup kita. Berarti bagus dong kalau kita bisa melengkapi ibadah kita? Walau cuma ibadah yang imajinatif, lha kan tadi saya bilang istri imajiner, iya gak sih?

Aih, kok malah nggedabrus. Sudah lah, saya mau sholat sungguhan dulu. Setelah itu zikir dan berdoa supaya istri sungguhan saya terkena serangan penyakit lupa-link-blog-suami. Biar gak baca postingan ini 0000ythn.gif

Thursday, May 8, 2008

Karyanya atau individunya?

Semua pasti punya favorit. Entah buku favorit, lagu favorit atau kaporit - kaporit lainnya. Halah. Sayangnya, banyak juga orang yang kemudian jadi gak suka sama karya -karya itu cuma karena dengar cerita negatif tentang orang yang menciptakan atau membawakan karya - karya itu. Atau sebaliknya. Jadi tergila - gila sama sebuah karya karena mendengar derita orang yang menciptakan.

Saya kebetulan termasuk orang yang suka melihat karya dibanding individu di balik karya itu. Jadi, sebagai contoh saja, kalau saya suka baca Laskar Pelangi, maka saya gak perduli kalau Andrea Hirata ternyata adalah alien dari galaxy lain. Ya kalau alien mah pasti dari planet atau galaxy lain dong ah. Kalau dari DESA lain, itu namanya klompencapir. Aih, kok jadi ngomongin klompencapir? Jadi ketauan deh saya ini dari generasi apa.

Back to topic, pokoknya selama karya itu orisinal dan memang enak untuk dinikmati, ya saya bakal tetap suka walaupun si penciptanya itu berbuat yang aneh - aneh. Jadi misalnya Monica Belluci atau Gong Li itu ternyata adalah tante drakula, saya pun ndak perduli. Lha wong body mereka itu cleguks banget. Haiiisssh..udah ah, pagi - pagi di kantor kok ngayal jorok.