Friday, December 14, 2007

Suku, agama, bahasa dan perbedaan semu lainnya.

Rupanya minggu ini jadi minggu serius buat gue. Segala macam kejadian gue tanggepin secara serius. Termasuk pada saat browsing, gue lebih sering ketemu dengan topik serius dibanding yang ringan - ringan. Sialnya, gue terdorong untuk menanggapi. Ampun! Makin hari, kebiasaan blogging ini jadi seperti sakaw (walaupun sebetulnya gue belum pernah sakaw, sok tau ya gue) mungkin namanya sakblog.

Hari ini, topik yang gue baca itu cenderung jenis berita yang terkotak - kotak. Ini istilah gue sendiri karena gue ngga tau istilah yang betul tuh apa. Berita yang terkotak - kotak itu menurut gue adalah berita tentang perlakuan tidak adil oleh satu pihak terhadap pihak lain dalam berbagai kemasan. Ada yang dalam kemasan agama, sosial, ekonomi bahkan budaya. Lebih parah lagi, ada beberapa berita yang ditulis secara sepihak.

Seperti biasa, berita - berita itu mendapat berbagai tanggapan dari pembacanya. Sebetulnya masih perlu ngga sih kita dapat berita seperti itu? Gue bukannya ingin menyederhanakan hidup, hanya saja, kita diberi kemampuan untuk berpikir dan bertindak rasional oleh pencipta kita bukan tanpa suatu alasan. Ok lah, mungkin memang ada orang yang sejak kecil sudah dengan sengaja didoktrin untuk berbuat dan berpikir tentang hal - hal yang negatif tapi gue yakin jumlahnya sangat sedikit. Sedangkan bagi kita yang dengan tidak sengaja terdoktrin, harusnya mampu untuk membuat perubahan dalam diri dan belajar membuka diri untuk keluar dari kotak - kotak semu itu tanpa harus menghilangkan ciri kita masing - masing.

Memang betul bahwa agama dan suku itu adalah hal yang pasti tapi tak nanti kita jadi terkelompokan menurut agama dan sukunya masing - masing, itu yang gue maksud dengan semu (kadang kalau lagi disuruh mimpin doa, gue pengen bilang "Mari kita berdoa menurut ide masing - masing" boleh gak siy?).

Nah dengan membuka diri, harusnya kita bisa menghilangkan ego dan bisa meredam sekaligus menyelesaikan masalah dengan baik. Kayaknya kita ngga perlu menanggapi suatu masalah yang sensitif dengan cara yang bombastis. Apalagi kalo sudah soal agama, rasanya orang yang paling malas beribadahpun bisa jadi fanatik dalam waktu sekejap.

Ini ada contoh pengkotakan masalah. Suatu hari gue ngobrol di Plaza Senayan dengan beberapa orang tentara, bahasannya (sudah pasti) seputar TNI. Waktu itu Panglima TNI baru saja dijabat oleh orang yang bukan dari TNI AD dan salah satu pak tentara ini bilang bahwa ngga pantes jabatan Panglima TNI dijabat oleh seorang yang bukan dari angkatan darat karena, menurut dia, angkatan darat itu memiliki jumlah personil terbesar yang berarti AD adalah kaum mayoritas. Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya kita sepakat bahwa seorang pemimpin itu tidak harus datang dari golongan mayoritas tapi haruslah seorang yang memiliki visi, kemampuan dan pengalaman yang baik, apapun golongannya. Hari itu gue senang, senang karena ngga digebukin gara - gara berbeda pendapat sama seorang tentara (nha! ini juga contoh pikiran yang terkotak - kotak. Ngga semua tentara itu tukang gebuk!)

Mungkin kita harusnya merayakan hari Sumpah Pemuda setiap minggu kali ya? Supaya kita bisa ingat terus dengan janji persatuan itu, supaya kita ngga ngeributin tentang pemimpin daerah yang harus asli putra daerah, supaya kita ngga mengharuskan bahwa ketua partai harus jadi calon presiden tunggal dari partai itu, supaya kita ngga kehilangan pulau lagi, supaya kita ngga saling serobot jalur di jalan raya dan pastinya supaya kita bisa semakin maju dan semakin bangga dengan ke-Indonesiaan kita.

Ngga, gue ngga bermaksud menggurui. Kalaupun terkesan seperti itu, itu cuma karena gue ngga pinter bertutur. Tulisan ini murni karena rasa sakblog itu tadi *huh*

Cara sukses untuk mingling.

Tadi baru baca artikel Mingle Bells: The 5 Do's of Picking up at a Party. Artikelnya bagus, sayangnya point ke 5 agak susah buat tipe orang kayak gue yang cenderung pendiam di dunia nyata. Jangankan disuruh approach, lha kalo sudah didalam grup yang lagi ngobrol aja gue suka susah njeplak (baca: ikutan ngobrol).

Sampai suatu hari gue menemukan metode yang sudah gue uji, kelinci percobaannya ya gue sendiri lah, dan cukup berhasil. Minimal berhasil membuat gue berani mendekati orang - orang yang lagi ngobrol, urusan bisa ikut ngobrol atau ngga mah urusan belakangan lah.

Cara gue cukup sederhana. Dengan membayangkan orang - orang itu sebagai makanan favorit, akhirnya gue jadi bernafsu mendekat. Nah supaya ngga bosen, gue selalu bikin variasi jenis makanan. Misalnya kelompok A gue bayangkan sebagai sate padang, kelompok B bebek goreng, kelompok C es kelapa muda dan seterusnya. Hasilnya? Makin gendut lah gue.

Thursday, December 13, 2007

Nama yang sama.

Barusan main ke blog Dahlia, ternyata di shout box-nya nemu nama Ragil juga. Memang, Ragil itu nama andalan bagi orang - orang yang handal :P. Sebetulnya arti dari ragil itu adalah bungsu. Sayangnya sejak jaman sekolah dasar, banyak yang suka manjangin jadi rada gila. Trus gue jadi minder gara - gara dicela kayak gitu? Pastinya ngga dong. Gue bilang, ragil itu raja gila. Terbukti pas di SMA banyak temen gue yang ikut - ikutan gila. Sedapnya jadi role model bwhakakakak.

Wednesday, December 12, 2007

Michael Schumacher ngebut pakai taxi.

Untuk ngilangin suntuk, gue browsing dan ngeliat artikel tentang Schumi yang lagi ngebut pakai taxi di German. Dari artikel itu bisa dibaca perasaan kagum sopir taxinya. Dia sangat kagum dengan cara Schumi mengemudikan taxi ditengah keramaian lalu lintas *atau karena dapet tip 100 euros?*.

Kalau soal jagoan nyetir dijalanan mah harusnya Pak Yilmaz itu main ke Jakarta dan naik angkot di Kali Malang. Pasti lebih kagum lagi.

Ganti aja sekalian nama negaranya.

Suka merhatiin rambu busway atau mobil polisi warna oranye dan bertuliskan POLICE yang suka parkir di depan kedutaan - kedutaan itu? Setidaknya dua hal itu yang suka gue liat dijalanan ibukota. Trus gue jadi mikir, apa emang perlu pakai bahasa Inggris? Kenapa ngga ditulis Khusus Bis Transjakarta? Untuk mobil polisi ya pakai aja warna dan atribut standar mobil kepolisian. Kenapa harus ganti? Atau gue yang ketinggalan berita tentang peraturan baru? Atau memang berhubungan dengan perubahan pelayanan? Kita tau soal transjakarta, layanan bis yang terlanjur akrab disebut busway ini memang beda pelayanannya dibanding bis lainnya. Terus mobil polisi itu apa juga beda dalam pelayanan? Kalau emang gitu, nama Indonesia diganti aja sekalian.

Bukan bermaksud sarkastik tapi liat aja Ho Chi Minh City ibukotanya Vietnam, sekarang mulai terlihat hebat dibanding pada saat memakai nama Saigon. Vietnam pun mulai unjuk gigi, minimal di ajang Sea Games lah. Sementara ini mereka bisa di nomer 2 klasemen , apalagi kalau mereka ganti nama negaranya sekalian?

Daripada sekedar (mau) mencontoh metode negeri asing dan gagal, mending sekalian aja ganti nama. Sudah ada yang bisa dijadiin contoh gagal tuh. Liat aja PSSI, tim-nya dikirim ke Argentina tapi tetep aja gagal di Sea Games. Kepemimpinannya juga mau mencontoh metode mafia Amerika jaman dulu. Masih inget Al Capone yang sempat sukses menjalankan organisasinya dari dalam penjara? Itu yang sekarang mau ditiru pemimpin PSSI dan gagal.

Aih, ada apa dengan gue hari ini? Kok jelek banget mood-nya.

Kerja ini kadang tak ada logika.

Bukannya mau mlesetin lagunya agnes monica tapi ini terinspirasi sama kejadian dua orang temen gue yang baru ketendang dari kantornya. Sengaja gue pakai kata ketendang, soalnya blom nemu kata yang tepat. Ceritanya temen - temen gue itu dapet surat pemberitahuan pemberhentian dari kerja dalam waktu yang sangat singkat. Ya gue ngga tau deh soal aturan - aturan kayak gitu tapi menurut gue, kalo soal etika mah ngga harus pake aturan. Ya dikira - kira aja sendiri, etis ngga memberhentikan karyawan tanpa ngasih kesempatan karyawannya bersiap - siap? Minimal siap - siap untuk cari - cari pekerjaan baru. Lha kita aja (kata yang pada kerja di kantoran) kalo mau resign kudu kasih pemberitauan ke perusahaan minimal 1 bulan sebelumnya. Supaya si perusahaan itu bisa cari pengganti kita.

Ternyata perusahaan penerbangan itu ngga hanya buruk diluar tapi ngga asik juga di internal. Ya semoga kalian bisa cepet dapet kerjaan baru yang lebih baik.

N.B:
Kalo boss - boss PR-nya baru diberhentikan trus siapa yang ngadepin wartawan ngejawab soal pilotnya yang barusan ketangkep basah lagi grepe - grepe pramugari?
Untuk oknum - oknum pilot sedunia, eh pake bahasa Inggris ah biar keren. For those jerk ass pilots all over the world, please don't put shame in the cockpit area. People call it a COCKPIT for a great reason...not a "cock pit"

Wednesday, December 5, 2007

Leadership seminar.

Beberapa hari yang lalu gue dapet sms dari temen yang jarang banget sms. Dulupun kenalnya cuma selintas dari temen yang lain. Isinya nawarin tiket leadership seminar. Aduh gue tau banget deh kalo itu seminarnya network 21 a.k.a amway. Ternyata modus operandinya masih sama, ngundang orang tanpa menyebut amway. Hehehe karena gue IBO makanya gue tau banget. Dulu gue sempat aktif tapi terus quit karena emang ga sanggup ngejalaninnya. Dulu waktu diajak join siy gue mau aja, lha gue kan ga pernah nolak income.

Dulu apa aja gue jalanin selama halal. Ya jadi IBO Amway, ya jadi produsernya Ungu, ya punya event organizer pokoknya apa aja yang ngehasilin duit lah. Pernah ada yang bilang, kalo kerja itu yang fokus gil jangan semuanya dijalanin bareng. Lho!? gue fokus kok. Fokusnya menghasilkan income. Gak salah dong? Sekarang siy gue sudah diam di production house karena ternyata gue cinta sama kerjaannya.

Ya intinya buat teman - teman lama gue, hemat pulsa lo deh. Gak usah nelpon atau sms gue soal network 21, soale gue masih terdaftar walaupun kategori B. Jadi ya gak bisa lo prospek bukan?

Eh kok gue berkhayal temen lama gue baca blog gue ya? Aduh kalo emang pada baca tolong tinggalin comment atau nyeletuk di shoutbox ya. Biar gue ngga buang - buang pulsa nge-sms lo semua tentang blog gue ini.

Lho kok??

Monday, December 3, 2007

Tugu Nasional

Ini hasil plesiran tempo doeloe bareng Sahabat Museum yang di kepala sukui oleh Adep. Sudah pasti seru. Apalagi tema kali ini adalah Arsitektur Kebangsaan. Jadi ceritanya (soedah pasti) seputar sejarah dan juga komentar - komentar dari Mas Bambang Eryudhawan a.k.a Mas Yuda yang berhubungan dengan gaya arsitektur gedung - gedung itu. Sayangnya gue lupa latar belakang Mas Yuda, maklum deh memori terbatas, tapi pokoknya dia paham banget lah sama yang dia omongin. Gue curiga jangan - jangan dia itu time traveler. Haiyah mulai ngayal lagi deh.

Saking banyaknya info yang gue terima hari itu, terpaksa tulisannya gue bagi jadi beberapa episode. Episode ini soal Tugu Nasional. Foto - foto (yang sedikit itu) ada disini tapi karena digital camera gue rusak mendadak, jadi terpaksa pakai kamera hand phone. Hasilnya ya gitu lah.


Konon katanya, pembangunan kawasan MONAS ini terpikir oleh Bung Karno setelah beliau kembali dari India. Dulunya di kawasan ini bakal ada gedung opera, gedung theater, museum - museum dan Tugu Nasional. Pokoknya bakal jadi landmark kebanggaan bangsa Indonesia yang baru merdeka sekaligus juga bagian dari kampanye melupakan masa kolonial. Tugu Nasional, yang saat ini sudah salah kaprah dengan istilah Tugu Monas, awalnya diusulkan oleh Sarwoko yang masa itu menyebutkan tinggi 45 meter untuk Tugu Nasional. Bung Karno menolak, karena menurut beliau 45 meter itu kurang dahsyat *ini bahasa gue siy*. Akhirnya disepakati angka 132 meter untuk ketinggian tugu. Itupun sekarang ini sudah tenggelam sama gedung - gedung sekitar. Gimana kalau jadi 45 meter?

Ada cerita menarik soal pembangunan tugu ini. Dulu pembangunannya berbarengan dengan masjid Istiqlal tapi prioritas Bung Karno adalah Tugu Nasional. Waktu itu ada yang menanyakan soal itu dan dijawab oleh Bung Karno seandainya dia sudah tidak jadi Presiden, pasti akan ada yang melanjutkan pembangunan masjid tapi kalau tugu yang terlantar, belum tentu penerus Bung Karno akan melanjutkan proyeknya. Masuk akal juga dan terbukti sampai saat ini kita ngga pernah (mampu) membuat proyek - proyek seperti itu.

Mungkin ada yang bilang gak penting. Tapi coba liat deh, Amerika punya Liberty, Perancis punya Eiffel dan yang terbaru di sebelah kita adalah Malaysia dengan menara kembarnya. Gedung - gedung itu bukan hanya jadi simbol kebanggaan tapi juga ikon wisata yang menarik bagi turis asing. Lha kita merawat yang ada aja susah, sekalinya merawat malah salah kaprah. Kalau menurut mas Yuda, dari sisi arsitektur atau landscape *atau moral ya mas?*, penempatan bunga bangkai palsu disekeliling Tugu Nasional itu sangat tidak cocok. Itu lebih cocok untuk taman Suropati atau taman Menteng, pokoknya taman yang bisa buat foto bareng teletubbies lah. Gue setuju, karena menurut gue bunga buatan gak seharusnya ada di tempat yang melambangkan sejarah perjuangan. Menurut cerita, taman bunga bangkai ini sumbangan PT. Gudang Garam dengan biaya puluhan milyar dan bakal terlihat indah kalau dilihat dari atas.

Haiyah, apa target turis kita itu sebangsa Superman?

Stadion Utama Gelora Bung Karno

Ini salah satu hasil dari permainan Bung Karno di jaman perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika. Di masa itu kita mencalonkan diri untuk jadi toean roemah Asian Games 1962, sayangnya saat itu Indonesia gak punya stadion yang bertaraf internasional dan untuk ngebangunpun sudah pasti kita ngga punya uangnya. Akhirnya dari hasil cuap - cuap ke Rusia, mengucurlah dana 12,5 juta US Dollar untuk pembangunan stadion. Kemudian dari hasil blah - blah - blah ke Amerika, kita jadi punya dana untuk membangun ruas jalan Gatot Subroto - S. Parman dan juga jembatan Semanggi.

Buat gue serunya ikutan plesiran tempo doeloe-nya Sahabat Museum selain bisa masuk ke dalam area stadion, gue juga jadi lebih paham sejarah Jakarta seputar tahun 1962. Ini gara - gara gue jadi niat browsing ke link ini dan ini. Foto selengkapnya di sini.






Kenapa ngga bikin BatMus dari jaman SD siy Dep? :D

Hati - hati dengan PIN anda.

Betul itu. Apalagi kalau PIN kartu ATM anda menggunakan tanggal lahir orang yang "tersembunyi". Bakal bahaya jika dalam keadaan emergency anda harus minta tolong pasangan anda mengambilkan uang dari ATM. Hmmm bisa timbul pertanyaan.

Ini sama bahayanya dengan mengigau pakai kata - kata mesra dan menggunakan bahasa Inggris pula, emang situ lagi suka bobo sama guru EF ya? weeqeqeqeqekh