Hari ini, topik yang gue baca itu cenderung jenis berita yang terkotak - kotak. Ini istilah gue sendiri karena gue ngga tau istilah yang betul tuh apa. Berita yang terkotak - kotak itu menurut gue adalah berita tentang perlakuan tidak adil oleh satu pihak terhadap pihak lain dalam berbagai kemasan. Ada yang dalam kemasan agama, sosial, ekonomi bahkan budaya. Lebih parah lagi, ada beberapa berita yang ditulis secara sepihak.
Seperti biasa, berita - berita itu mendapat berbagai tanggapan dari pembacanya. Sebetulnya masih perlu ngga sih kita dapat berita seperti itu? Gue bukannya ingin menyederhanakan hidup, hanya saja, kita diberi kemampuan untuk berpikir dan bertindak rasional oleh pencipta kita bukan tanpa suatu alasan. Ok lah, mungkin memang ada orang yang sejak kecil sudah dengan sengaja didoktrin untuk berbuat dan berpikir tentang hal - hal yang negatif tapi gue yakin jumlahnya sangat sedikit. Sedangkan bagi kita yang dengan tidak sengaja terdoktrin, harusnya mampu untuk membuat perubahan dalam diri dan belajar membuka diri untuk keluar dari kotak - kotak semu itu tanpa harus menghilangkan ciri kita masing - masing.
Memang betul bahwa agama dan suku itu adalah hal yang pasti tapi tak nanti kita jadi terkelompokan menurut agama dan sukunya masing - masing, itu yang gue maksud dengan semu (kadang kalau lagi disuruh mimpin doa, gue pengen bilang "Mari kita berdoa menurut ide masing - masing" boleh gak siy?).
Nah dengan membuka diri, harusnya kita bisa menghilangkan ego dan bisa meredam sekaligus menyelesaikan masalah dengan baik. Kayaknya kita ngga perlu menanggapi suatu masalah yang sensitif dengan cara yang bombastis. Apalagi kalo sudah soal agama, rasanya orang yang paling malas beribadahpun bisa jadi fanatik dalam waktu sekejap.
Ini ada contoh pengkotakan masalah. Suatu hari gue ngobrol di Plaza Senayan dengan beberapa orang tentara, bahasannya (sudah pasti) seputar TNI. Waktu itu Panglima TNI baru saja dijabat oleh orang yang bukan dari TNI AD dan salah satu pak tentara ini bilang bahwa ngga pantes jabatan Panglima TNI dijabat oleh seorang yang bukan dari angkatan darat karena, menurut dia, angkatan darat itu memiliki jumlah personil terbesar yang berarti AD adalah kaum mayoritas. Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya kita sepakat bahwa seorang pemimpin itu tidak harus datang dari golongan mayoritas tapi haruslah seorang yang memiliki visi, kemampuan dan pengalaman yang baik, apapun golongannya. Hari itu gue senang, senang karena ngga digebukin gara - gara berbeda pendapat sama seorang tentara (nha! ini juga contoh pikiran yang terkotak - kotak. Ngga semua tentara itu tukang gebuk!)
Mungkin kita harusnya merayakan hari Sumpah Pemuda setiap minggu kali ya? Supaya kita bisa ingat terus dengan janji persatuan itu, supaya kita ngga ngeributin tentang pemimpin daerah yang harus asli putra daerah, supaya kita ngga mengharuskan bahwa ketua partai harus jadi calon presiden tunggal dari partai itu, supaya kita ngga kehilangan pulau lagi, supaya kita ngga saling serobot jalur di jalan raya dan pastinya supaya kita bisa semakin maju dan semakin bangga dengan ke-Indonesiaan kita.
Ngga, gue ngga bermaksud menggurui. Kalaupun terkesan seperti itu, itu cuma karena gue ngga pinter bertutur. Tulisan ini murni karena rasa sakblog itu tadi *huh*



